Indonesia adalah negara kepulauan dengan tingkat resiko terhadap gempa bumi yang cukup tinggi, hal ini disebabkan karena wilayah kepulauan Indonesia berada di antara 4 (empat) sistem tektonik yang aktif. Yaitu tapal batas lempeng Eurasia, lempeng IndoAustralia, lempeng Filipina dan lempeng Pasifik. Di samping itu Indonesia adalah negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang di dunia sehingga selain rawan terhadap gempa juga rawan terhadap tsunami, maka struktur bangunan gedung benar-benar harus dipertimbangkan.

Dengan semakin majunya sosial ekonomi Indonesia dewasa ini, semakin banyak pula bangunan-bangunan yang berdiri atau dibangun dengan selera artistik yang semakin tinggi pula cita rasanya. Sehingga dapat kita saksikan banyak sekali gedung-gedung bertingkat tinggi yang menjulang dengan seni arsitektural mencengangkan. Kadang bentuknya aneh, monumental atau unik.

Dari segi estetika-arsitektur bangunan semacam ini memiliki daya tarik yang luar biasa, namun bila ditinjau dari segi ketahanan gempa bentuk-bentuk struktur yang aneh ini sangat rentan dan beresiko tinggi. Kalau pun ingin mempertahankan bentuk semacam ini, sudah tentu konstruksinya harus jauh lebih kuat dan menjadi lebih mahal.

Struktur Bangunan Gedung

Seyogyanya, menurut kaidah-kaidah ketahanan gempa, suatu struktur bangunan haruslah berbentuk sebuah bangunan yang teratur. Yakni berbentuk persegi empat, tidak banyak tonjolan, simetris dalam dua arah sumbu utama, secara vertical bentuk struktur haruslah menerus secara kontinu, dan berbagai batasan yang tertuang di dalam peraturan bangunan tahan gempa untuk gedung di Indonesia (SNI-1726).

Pada dasarnya, proses pembangunan gedung bertingkat tinggi mulai dari tahap desain sampai tahap pelaksanaan memerlukan waktu dan perencanaan yang matang. Termasuk didalamnya perhitungan struktur yang sangat rumit, juga banyaknya aturan ketat mulai dari perhitungan kekuatan dukungan pondasi, perhitungan ukuran dan komposisi struktur balok kolom, ketahanan bangunan terhadap beban statis, beban dinamis dan perkiraan beban gempa yang mungkin akan dihadapi bangunan tersebut dan kekakuan struktur yang efektif dalam menyerap energy gempa.

Dimasa lalu, para ahli bangunan merancang bangunan tahan gempa dengan merencanakan struktur utama (balok-kolom) sedemikian kaku dan kuat, agar tidak goyang saat terjadi gempa. Hal ini diimplementasikan dengan mendesain struktur kolom dan balok dengan dimensi yang besar dengan tulangan baja yang rapat, yang tentunya akan membutuhkan biaya yang jauh lebih besar dan mahal. Mengingat kemungkinan besarnya gaya inersia gempa yang bekerja di titik pusat massa bangunan, maka para ahli konstruksi berpendapat bahwa tidaklah ekonomis untuk merencanakan struktur-struktur umum sedemikian kuat dan kaku, sehingga tetap berperilaku elastis saat dilanda gempa yang kuat.

Pemerintah Indonesia dalam “Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung, SKSNI 03-1726-2002″ menetapkan suatu taraf beban gempa rencana yang menjamin suatu struktur agar tidak rusak karena gempa-gempa kecil atau sedang, tetapi saat dilanda gempa kuat yang jarang terjadi struktur tersebut mampu berperilaku daktail dengan mendistribusikan energi gempa dan sekaligus membatasi beban gempa yang masuk ke dalam struktur.

Saat terjadi gempa kuat struktur yang direncanakan berperilaku elastis harus dapat memikul beban gempa tersebut, hal ini diperoleh dengan merencanakan pembentukan sendisendi plastis pada pertemuan balok dan kolom. Dalam perencanaan bangunan tahan gempa, terbentuknya sendi-sendi yang mampu memencarkan energi gempa dan membatasi besarnya beban gempa yang masuk ke dalam struktur harus dikendalikan sedemikian rupa agar struktur berperilaku memuaskan dan tidak sampai runtuh saat terjadi gempa kuat.

Pengendalian terbentuknya sendi-sendi plastis pada lokasi-lokasi yang telah ditentukan terlebih dahulu dapat dilakukan secara pasti terlepas dari kekuatan dan karakteristik gempa. Filosofi perencanaan seperti ini dikenal sebagai Konsep Desain Kapasitas. Dengan konsep desain kapasitas, untuk menghadapi gempa kuat yang mungkin terjadi dalam periode waktu tertentu (misalnya 200 tahun), maka mekanisme keruntuhan suatu portal rangka terbuka beton bertulang dipilih sedemikian rupa sehingga pendistribusian energi gempa terjadi secara memuaskan.

Desain bangunan tahan gempa merupakan perencanaan bangunan dengan menambahkan rencana beban gempa pada perhitungan beban yang akan diterima struktur selain beban normal, beban vertikal dan beban angin. Beban gempa pada dasarnya bersifat dinamis dengan Amplitudo yang tidak seragam, penyederhanaan beban gempa dinamis tersebut adalah dengan mencatat riwayat gempa yang pernah terjadi di suatu daerah tempat lokasi bangunan akan dibangun dan menyederhanakannya menjadi beban gempa statis (static equivalent) yang akan diterima di tiap-tiap joint pertemuan kolom dan balok, yang akan menyebabkan terjadinya simpangan (Δ) dan momen. Kemudian struktur yang direncanakan harus mampu menahan beban-beban yang bekerja tersebut sebagai pemodelan beban gempa.

Jika Anda membutuhkan jasa hitung struktur bangunan gedung silahkan hubungi kami di nomer 0821 3223 8685.

Menu